4/5/12: Pemulung ala Jepun: Ente Buang, Ente Bayar!

0e27e5cc966711e198961231381511

Inilah salah satu wujud pemulung ala Jepun yang suka berkeliling kawasan perumahan di Tokyo dengan mobil kecil. Dengan megaphone yang suaranya memekakkan telinga, mereka memutar-mutar ulang suara yang menawarkan untuk menerima barang-barang bekas kita, mulai dari TV, kulkas, oven microwave, mesin cuci, komputer sepeda bahkan motor sekalipun.. Pokoknya barang bekas apa saja yang mereka sanggup naikkan ke mobil pickup kecil itu. 

Saya jadi ingat mertua saya di Bekasi yang suka sekali mengumpulkan botol-botol plastik bekas air mineral atau koran dan majalah bekas untuk dijual ke pengumpul barang bekas yang juga biasa keliling kompleks, sama persis di Jepang. Tidak seberapa memang hasilnya, tapi lumayan buat nambah uang beli cabe, tomat dan terasi untuk nyambel. Namun mertua saya pasti akan ngomel kalau tahu bahwa di Jepang justru kitalah harus MEMBAYAR untuk bisa "menitipkan" barang bekas kita ke mereka. Iya, betul! Ini bukan salah tulis.. Kita yang harus bayar, karena mereka membantu kita menyingkirkan barang-barang itu tanpa harus repot.

Repot! Itulah resiko punya barang bekas yang berukuran besar di Jepang (istilahnya sodai gomi). Ada sih yang suka usil menyimpan barang-barang itu di pinggir jalan lalu dipasangi kertas bertuliskan "Silahkan ambil!" Tapi itu sebenarnya melanggar peraturan. 

Cara yang benar adalah menelpon bagian pembuangan sampah ke kantor pemda setempat, jelaskan barang apa yang mau kita buang dan berapa besar ukurannya. Nanti mereka yang akan menentukan berapa biayanya dan kapan mereka akan datang untuk mengambilnya. Beres? Belumm..

Setelah tahu berapa biayanya, kita harus pergi ke kombini (convenience store alias toserba mini 24 jam mirip alfamart atau indomart di Indonesia) untuk membeli apa yang disebut sebagai sodai gomi shori-ken atau artinya kurang lebih adalah "tiket pengolahan limbah ukuran besar", sesuai dengan biaya pembuangan yang sudah disebutkan. Misalnya untuk untuk kasur springbed biayanya bisa sampai sekitar 2 ribuan yen atau lebih dari 200 ribu perak.  Tiket itulah yang harus kita tempel di barang berukuran besar yang akan dibuang. Beres? Enak saja.. Belumm..!

Setelah ditempeli tiket sodai gomi tadi, kita harus mau bersusah payah memindahkan barang bekas itu ke luar rumah di hari dan jam pengambilan yang ditentukan. Ini tidak mudah terutama karena kebanyakan orang Jepang tinggal di apato atau apartemen. Kalau lewat dari waktu pengambilan, selamat lah. Kita harus telepon ulang lagi. Kalau jauh sebelum waktu pengambilan sudah diletakkan di luar, siap-siap diprotes tetangga hehe

Jadi repot kan? Nah disinilah peran para pemulung keliling itu. Mereka membantu memotong semua proses yang ribet itu. Tapi kita harus tetap bayar kepada mereka. Berapa? Konon lebih murah. Tapi kalau tidak pandai menawar, sering juga kita harus bayar lebih mahal.. 

Tapi on the brighter side, ketika ada teman-teman orang Indonesia yang mau mudik, biasanya mereka akan menawarkan dulu barang-barang mereka yang berukuran besarnya ke kita yang masih ada di Jepang, siapa tahu kita perlu. Itu namanya saling membantu. Kalaupun ada yang menjualnya ke kita, pasti itu barang yang masih sangat berharga atau mungkin lagi kekurangan ongkos mudik hehehehehe

Udah ah.. Selamat berakhir pekan kawan-kawan.. 

Tokyo, 5 Mei 2012

23/4/12: Kenalkan, Saya Seniman Instagram. Mau Beli Karya Saya? :p

Galeri

 Manusia memang suka sekali diberi atau memberi dirinya macam-macam embel-embel identitas sebutan yang dianggap keren. Masih ingat jaman-jaman ngeblog baru muncul, saya bangga sekali menyebut diri blogger, sampai mencetak kartu nama segala. Sekarang saya lagi senang karena baru dapat sebutan baru: seniman! Bukan saya lho yang memberikan sebutan ini, tapi orang-orang di Instacanvas.

Ceritanya begini. Beberapa hari lalu saya terima email dari Instacanvas (http://instacanv.as) yang mengabari kalau saya terpilih menjadi salah satu seniman pertama yang berhak memiliki galeri sendiri di situs mereka untuk menjual karya-karya foto Instagram saya. Ya, saya seniman! Keren nggak tuh? hehe

Oke buat yang belum tahu, Instacanvas adalah layanan dimana para pengguna Instagram bisa memiliki galeri sendiri yang berisikan karya foto Instagramnya, dan menjualnya dalam bentuk cetakan di atas kanvas berkualitas. Semua mereka yang urus dan kita sebagai senimannya mendapat keuntungan sekitar 20 persen. Harganya untuk satu foto berkisar antara 39 sampai 79 dolar AS tergantung ukuran cetakannya. Itu belum ongkos kirim ya. Untuk Amerika ongkos kirimnya 14 dolar, untuk negara lain sekitar 48 dolar.

"Gila aja!" Mungkin banyak -termasuk saya- yang berpikir, "Cetak kanvas kan udah banyak dimana-mana! Ngapain keluar uang mahal-mahal? Udah gitu lu cuma dapet 20 persen!" Haha.. betul memang! Tapi ada satu hal yang jauh lebih mahal menurut saya: IDE!

Matt Munson dan kawan-kawannya di tim Instacanvas terpikirkan untuk memanfaatkan popularitas layanan berbagi foto Instagram yang sedang sangat populer (sampai-sampai dibeli oleh Facebook). Mereka lalu menyebut karya-karya foto Instagram itu sebagai sebuah karya seni lalu mengajak para Instagramer membuka galeri di situs mereka untuk menjual karya-karya seni itu.

Supaya tidak terkesan "gampangan", mereka lalu membuka pendaftaran bagi yang tertarik membuka galerinya sendiri. Lalu mereka menggunakan strategi viral dimana kita diminta mengundang sebanyak mungkin teman lewat layanan jejaring sosial untuk memberi dukungan agar galeri kita bisa segera dibuka.

Tentu unsur teknologi juga berperan. Mereka mengklaim memiliki teknologi yang memungkinkan mencetak foto Instagram (yang rata-rata ukuran dan resolusinya kecil) menjadi ukuran yang terbesar sekitar 50 sentimeter tanpa mengorbankan kualitas. Jenis kanvasnya pun mereka sebut sebagai kanvas berkualitas musium, entah apa pula itu. Biar lebih mantap, garansi uang kembali pun mereka ajukan buat yang tidak puas dengan hasilnya. Hal-hal seperti inilah yang saya maksud dengan ide yang mahal!

Yang justru jadi pertanyaan saya ketika pertama melihat layanan Instacanvas ini adalah, kenapa ya tidak ada orang di Indonesia yang punya ide seperti ini? Orang Indonesia itu banyak yang super kreatif. Layanan cetak juga pasti lebih murah. Lantas kenapa tidak ada yang memanfaatkan ide-ide untuk membuat hal seperti ini? Rasanya pasti banyak pelanggan yang tertarik. Saya sendiri tertarik memajang foto-foto Instagram saya di rumah. Tapi 79 dolar per foto? Hmm.. buat orang Amerika mungkin relatif murah. Buat saya? Ntar dulu deh.

Saya sering iri dengan macam-macam layanan internet semacam ini di luar negeri, seperti misalnya  blurb.com yang menyediakan layanan cetak buku fotografi bermutu (termasuk foto dari Instagram) dan Lulu.com yang menyediakan layanan mencetak buku "on demand."

Oke, sudah ada nulisbuku.com yang memulai layanan semacam lulu.com. Terus yang lain kemana? Ayo dong..

Untuk sementara ya biarlah saya puas disebut sebagai "seniman" dan punya galeri sendiri, meskipun belum sanggup untuk mencetak karya seni saya sendiri hehe..

Tapi kalau ada yang mau beli karya seniman yang satu ini, silahkan lho main ke galeri saya di:

http://instacanv.as/rane.

Siapa tahu berpuluh-puluh tahun nanti karya seni saya yang Anda beli itu bisa semahal karya Van Gogh atau Pablo Picasso dan dijual di rumah lelang sekelas Sotheby's hehehehe..

Udah ah, mau rapihin galeri baru dulu.. *pake baret ala pelukis*

- Tokyo, 23 April 2012

14/4/12: Cuplikan Siaran DJ Mput Hari Ini

(download)

Sudah beberapa waktu ini Mput, putri saya yang berusia 12 tahun lagi senang-senangnya siaran lewat RKTI, sebuah radio internet yang digagas oleh beberapa pengguna twitter Indonesia. Mput siaran setiap hari Minggu jam 10 pagi sampai 12 siang WIB di http://r.rkti.net:8000 (bisa didengar lewat ponsel juga). Tidak ada niat "mengompori"nya untuk jadi tukang ngoceh juga di radio hehe.. Tapi ya kalau memang dia tertarik silahkan. Dalam cuplikan ini Mput cerita soal tips-tips jika terjadi gempa. Enjoy :D

12/4/12: Cinemagraph: Seni Fotografi Bergerak

Foto bergerak. Itu cara paling mudah untuk menjelaskan apa itu cinemagraph. Penjelasan lebih lengkapnya adalah seni fotografi dimana ada bagian tertentu dari foto itu yang dibuat bergerak. Istilah cinemagraph pertama kali diciptakan oleh sepasang fotografer fashion di Amerika Serikat, Kevin Burg dan Jamie Beck saat pertama kali terpikirkan membuat animasi untuk karya fotografi mereka.

Bisa dikatakan sebenarnya ini adalah salah satu bentuk seni animasi gambar berformat GIF, tapi bedanya adalah karena cinemagraph lebih mengedepankan unsur fotografi ketimbang animasinya. Idealnya sih dibuat secara manual, tapi ada aplikasi yang bisa juga membantu membuatnya.

Read the rest of this post »

Filed under  //   animasi   cinemagr.am   cinemagraph   fotografi  

10/4/12: Dukung FOKE jadi...

578062_10150799707626337_76184

Gambar ini belakangan banyak menyebar di Facebook, entah siapa yang memulai. Bisa ditebak dong kenapa. Saya sendiri waktu pertama melihatnya di wall seorang teman sempat kaget karena tidak pernah membayangkan si teman itu menjadi seorang pendukung Fok.. eits tunggu dulu.. ternyata tulisannya "Dukung FOKE jadi MANTAN GUBERNUR DKI Jakarta" hahaha..!!

Read the rest of this post »

9/4/12: Video Sakura 2012


Jajal syuting, editing dan upload video sakura yang lagi mekar di belakang kantor. Enjoy :)

Filed under  //   video  

3/4/12: Chuck Norris Indonesia itu Namanya Yayan #MadDog Ruhian

Page_1

Istilahnya: internet meme (baca: miim, awas jangan salah baca hehe). Ini istilah yang dipakai untuk mengacu kepada sebuah trend yang menyebarluas di dalam sebuah budaya, bahkan semakin menggila di era media sosial di internet seperti sekarang tanpa jelas darimana asal usulnya atau mengapa bisa sampai sebegitu menyebarluasnya.

Nah, hari ini jagat kicauan Twitter Indonesia tiba-tiba diramaikan dengan meme baru yang menyebar lewat tagar atau hashtag #MadDog. Siapa Mad Dog ini? Ini adalah nama tokoh antagonis dalam film The Raid garapan sutradara Garreth Evans yang diperankan oleh Yayan Ruhian. 

Read the rest of this post »

26/3/12: [Buku] Escape From Camp 14

Escape

Ada buku bagus nih, siapa tahu tertarik. Saya baru pre-order buku menarik berjudul “Escape From Camp 14” karya penulis dan jurnalis Blaine Harden gara-gara dapat link berisi kutipan isi buku itu dari seorang teman dan terpukau dengan isinya. Pantas ada yang bilang ini akan menjadi buku penting abad ini.

Read the rest of this post »

12/3/12: 11 Maret Setahun Lalu..

11 Maret 2011. Hari Jumat sekitar pukul 14.45 saya sudah di kantor, di lantai 6 sebuah gedung di Shibuya Tokyo. Baru saja saya duduk tiba-tiba terdengar bunyi alarm disusul suara berderak-derak yang kuat sekali. Badan serasa melayang, dalam pikiran mungkin karena belum makan siang. Baru saja berdiri, tiba-tiba badan saya yang besar ini terbanting ke tembok di kiri dan kanan. Astaghfirullah..!  Gempa!! Ini gempa besar sekali! Sebuah gempa yang belakangan baru saya tahu merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah Jepang dan dunia, dan di saat itu saya ada di tempat yang kurang menguntungkan. Di WC hehehe.. Saya lupa pada perut yang mules dan langsung beberes sambil menahan badan yang masih belum ajeg berpijak ke lantai.

Saya sering mengalami gempa di Jepang, bahkan dulu pernah tinggal di salah satu kawasan rawan gempa di NTB ketika salah satu gempa besar mengguncang kawasan itu. Tapi ini adalah yang terbesar. Semua pengetahuan yang saya dapat tentang kesiapan menghadapi bencana lupa semua! Saya hanya mengikuti naluri: selamatkan diri dan langsung kontak keluarga. Beberapa orang lari ke arah tangga dan saya putuskan mengikuti mereka terus ke lantai bawah. Di bawah kami ditahan, tidak boleh keluar karena menurut petugas keamanan kantor, lebih bahaya kalau berada di luar. Beberapa gempa susulan kemudian terjadi dan saat semua reda, barulah pintu kantor dibuka. Kami pun menghambur keluar...

Selanjutnya, izinkan saya bicara dengan foto yang sempat saya ambil dengan kamera di HP Blackberry saya..

Read the rest of this post »

4/3/12: [Gambar] Journey to Solitude

Photo

Iseng gambar-gambar dengan iPad. Silahkan ditafsirkan sendiri apa artinya hehe..