Manusia memang suka sekali diberi atau memberi dirinya macam-macam embel-embel identitas sebutan yang dianggap keren. Masih ingat jaman-jaman ngeblog baru muncul, saya bangga sekali menyebut diri blogger, sampai mencetak kartu nama segala. Sekarang saya lagi senang karena baru dapat sebutan baru: seniman! Bukan saya lho yang memberikan sebutan ini, tapi orang-orang di Instacanvas.
Ceritanya begini. Beberapa hari lalu saya terima email dari Instacanvas (
http://instacanv.as) yang mengabari kalau saya terpilih menjadi salah satu seniman pertama yang berhak memiliki galeri sendiri di situs mereka untuk menjual karya-karya foto Instagram saya. Ya, saya seniman! Keren nggak tuh? hehe
Oke buat yang belum tahu, Instacanvas adalah layanan dimana para pengguna
Instagram bisa memiliki galeri sendiri yang berisikan karya foto Instagramnya, dan menjualnya dalam bentuk cetakan di atas kanvas berkualitas. Semua mereka yang urus dan kita sebagai senimannya mendapat keuntungan sekitar 20 persen. Harganya untuk satu foto berkisar antara 39 sampai 79 dolar AS tergantung ukuran cetakannya. Itu belum ongkos kirim ya. Untuk Amerika ongkos kirimnya 14 dolar, untuk negara lain sekitar 48 dolar.
"
Gila aja!" Mungkin banyak -termasuk saya- yang berpikir, "Cetak kanvas kan udah banyak dimana-mana! Ngapain keluar uang mahal-mahal? Udah gitu lu cuma dapet 20 persen!" Haha.. betul memang! Tapi ada satu hal yang jauh lebih mahal menurut saya:
IDE! Matt Munson dan kawan-kawannya di tim Instacanvas terpikirkan untuk memanfaatkan popularitas layanan berbagi foto Instagram yang sedang sangat populer (sampai-sampai dibeli oleh Facebook). Mereka lalu menyebut karya-karya foto Instagram itu sebagai sebuah karya seni lalu mengajak para Instagramer membuka galeri di situs mereka untuk menjual karya-karya seni itu.
Supaya tidak terkesan "gampangan", mereka lalu membuka pendaftaran bagi yang tertarik membuka galerinya sendiri. Lalu mereka menggunakan strategi
viral dimana kita diminta mengundang sebanyak mungkin teman lewat layanan jejaring sosial untuk memberi dukungan agar galeri kita bisa segera dibuka.
Tentu unsur teknologi juga berperan. Mereka mengklaim memiliki teknologi yang memungkinkan mencetak foto Instagram (yang rata-rata ukuran dan resolusinya kecil) menjadi ukuran yang terbesar sekitar 50 sentimeter tanpa mengorbankan kualitas. Jenis kanvasnya pun mereka sebut sebagai kanvas berkualitas musium, entah apa pula itu. Biar lebih mantap, garansi uang kembali pun mereka ajukan buat yang tidak puas dengan hasilnya. Hal-hal seperti inilah yang saya maksud dengan ide yang mahal!
Yang justru jadi pertanyaan saya ketika pertama melihat layanan Instacanvas ini adalah, kenapa ya tidak ada orang di Indonesia yang punya ide seperti ini? Orang Indonesia itu banyak yang super kreatif. Layanan cetak juga pasti lebih murah. Lantas kenapa tidak ada yang memanfaatkan ide-ide untuk membuat hal seperti ini? Rasanya pasti banyak pelanggan yang tertarik. Saya sendiri tertarik memajang foto-foto Instagram saya di rumah. Tapi 79 dolar per foto? Hmm.. buat orang Amerika mungkin relatif murah. Buat saya? Ntar dulu deh.
Saya sering iri dengan macam-macam layanan internet semacam ini di luar negeri, seperti misalnya
blurb.com yang menyediakan layanan cetak buku fotografi bermutu (termasuk foto dari Instagram) dan
Lulu.com yang menyediakan layanan mencetak buku "
on demand."
Oke, sudah ada
nulisbuku.com yang memulai layanan semacam
lulu.com. Terus yang lain kemana? Ayo dong..
Untuk sementara ya biarlah saya puas disebut sebagai "seniman" dan punya galeri sendiri, meskipun belum sanggup untuk mencetak karya seni saya sendiri hehe..
Tapi kalau ada yang mau beli karya seniman yang satu ini, silahkan lho main ke galeri saya di:
http://instacanv.as/rane.
Siapa tahu berpuluh-puluh tahun nanti karya seni saya yang Anda beli itu bisa semahal karya Van Gogh atau Pablo Picasso dan dijual di rumah lelang sekelas Sotheby's hehehehe..
Udah ah, mau rapihin galeri baru dulu..
*pake baret ala pelukis*
- Tokyo, 23 April 2012