26/1/12: Aya Lancaster dan "Marketing Hujatan"

Aya

Namanya Aya Lancaster (entah nama asli atau bukan). Umurnya baru 23 tahun, mahasiswi di sebuah PTS di Bandung. Belakangan namanya menjadi polemik di internet gara-gara sebuah artikel di Republika bertajuk “Ditolak Penerbit Lokal, Novel Mahasiswa Bandung Sukses di Pasar Internasional” dan satu artikel serupa lainnya di Media Indonesia.

Judul artikel itu saja sudah bisa menjelaskan: Aya menulis novel, ditolak penerbit-penerbit lokal, lalu dikirim ke sebuah penerbit luar negeri, diterbitkan dan bahkan sekaligus dipasarkan diantaranya di gerai buku online kondang seperti Amazon dan Barnes and Noble. Catat, baru diterbitkan! Masih terlalu dini untuk disebut laris, meskipun menurut pengakuannya buku itu sudah dijual di beberapa negara Eropa, Jepang, Singapura dan Amerika Serikat, bahkan resensinya sudah dimuat di Readers Digest. Bisa jadi itu yang dimaksud si wartawan Republika dengan sukses.

Artikel itu kemudian menuai polemik. Dalam tulisan di sebuah blog “terungkap” kalau penerbit luar negeri yang dipakai si Aya ini: “BUKAN publisher, melainkan ‘hanya’ sebuah self-publishing company yang mempunyai ‘cabang’ di Amerika Serikat dan Britania Raya.” Si penulis blog kemudian menyimpulkan bahwa kedua artikel itu ‘menyesatkan’ (tanda petiknya asli saya impor dari si penulis blog). Tak lupa disertakannya ilustrasi bertuliskan kata “liar” untuk melengkapi pendapatnya. Namun pada saat yang sama si penulis juga mengakui bahwa self publishing bukanlah sesuatu yang buruk.

Ramailah orang menghujat di twitter, facebook dan juga komentar-komentar di artikel blog dan artikel di koran online. Seharian saya yang kepo (baca: selalu mau tahu urusan orang) ini menelusuri ramainya polemik soal buku itu di internet. Intinya sebenarnya sama dengan kesimpulan si penulis blog tadi yakni bahwa tidak ada yang istimewa dari penulis novel itu kecuali dia sekarang sudah terkenal berkat artikel di Republika dan Media Indonesia yang dianggap menyesatkan.

Ya bisa jadi juga ada penafsiran menyesatkan karena disitu ada kata-kata “dilirik oleh penerbit internasional” tapi di artikel itu Aya mengaku kalau dia sendiri yang mengirim novelnya atas saran kawannya. Ini yang menyesatkan si penulis artikel apa Aya sih?

Jujur saya sendiri belum baca novelnya walaupun tersedia di Amazon Jepang. 5.704 yen terlalu amat mahal untuk genre buku yang bukan favorit saya. Tapi saya sudah baca sebagian halaman awalnya di amazon. Dari hanya sebagian halaman itu saja kelihatan bahasa Inggrisnya bagus. Pilihan kata-katanya begitu sophisticated sampai-sampai saya harus sesekali buka kamus untuk bisa paham artinya. Oya novel itu tebalnya 448 halaman! Buset! Saya sempat kerja sebentar jadi editor di sebuah radio berita berbahasa Inggris di Singapura, dan mengedit satu dua lembar naskah para reporter dalam bahasa yang bukan bahasa ibu saya itu saja perlu konsentrasi ekstra lama, apalagi menulisnya. Apalagi sampai 448 halaman. 

Hmm.. Jadi penasaran nih. Apa alasan penerbit lokal menolak novel ini karena berbahasa Inggris? Atau mungkin awalnya ditulis dalam bahasa Indonesia lalu setelah ditolak penerbit kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris? Siapa yang menerjemahkan? Dia atau orang lain? Darimana dia punya kemampuan menulis ratusan halaman dalam bahasa Inggris? Kenapa tidak ada yang mempertanyakan itu? Kenapa juga tidak mempertanyakan isi bukunya yang konon kabarnya masih banyak typo alias salah ketik?  Kenapa yang justru dipersoalkan adalah penerbitnya? Apa sih salahnya pakai penerbit self-publishing, apalagi yang --dengan biaya tertentu seperti di penerbit yang dipakai Aya-- bisa membantu memasarkan juga di gerai-gerai online terkenal seperti Amazon? 

Saya tidak kenal Aya Lancaster. Tapi kalaupun kenal saya juga punya tambahan pertanyaan untuknya: ini semua kebetulan apa memang dia ahli marketing sampai bisa jadi seterkenal sekarang? Berkat polemik itu bayangkan berapa banyak namanya dan bukunya disebut di internet, berapa kali link bukunya di Amazon di klik orang? Penerbit yang “cuma self-publishing house” itupun nebeng jadi tenar karena di link dimana-mana dan di klik oleh orang-orang kepo macam saya.

Maaf saya jadi banyak bertanya dan bertanya karena saya tidak paham. Malah di akhir tulisan ini saya masih menyisakan beberapa pertanyaan lagi:

Kenapa sih kita jadi sangat suka buang-buang waktu untuk menelisik setiap kesalahan orang? Apa kita sudah memahami duduk permasalahannya? Sudahkah kita menanyakan apa yang kita sendiri sudah dan akan perbuat? Kenapa sih kita jadi kreatif sekali dalam memaki? Kenapa lancar sekali kita menghujat? Kenapa sering pihak yang kita hujat pada akhirnya justru menangguk untung dan membuat kita malah jadi terkesan sirik dan dengki? Apa jangan-jangan kita sanggupnya cuma itu?

Ah, nanya mulu kayak tamu hahaha!!

Udah ah.. Ada yang punya pendapat lain? Bisa jadi saya yang salah paham lho.

 

- Tokyo, 26 Januari 2012

 

---------

Tautan terkait (buat yang mau ikut kepo kayak saya hehe):

 :: Artikel yang ramai dibicarakan itu (lengkap dengan komentar makian dan pujiannya):  http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/pustaka-populer/12/01/21/ly559b-ditolak-penerbit-lokal-novel-mahasiswa-bandung-sukses-di-pasar-internasional

:: Masih artikel yang terkenal itu:  http://www.mediaindonesia.com/read/2012/01/21/293103/293/14/-Ditolak-Penerbit-Lokal-Novel-Aya-Beredar-di-Mancanegara

:: Yang merasa tertipu itu: http://littlemisstwiggydee.com/2012/01/24/tertipu/

:: Yang ikut bertanya: http://el-ovio.blogspot.com/2012/01/benarkah-novel-mahasiswa-bandung-sukses.html

:: Novel yang jadi pembicaraan itu: http://www.amazon.com/Chronicles-Fallen-Rebellion-Aya-Lancaster/dp/1456779494/ref=sr_1_1?ie=UTF8&qid=1327546819&sr=8-1

* Keterangan gambar: screenshot yang saya ambil dari twitter. Sengaja nama-namanya saya hapus. Maaf kalau ada yang tidak berkenan silahkan protes ke saya di kotak komentar di bawah.

#

19/1/12: Sampaikanlah Walau Satu Twit :D

Photo

Pernah suatu hari saya dan kawan-kawan berdebat soal boleh atau tidaknya nge-tweet (istilahnya "live tweet" atau "kul-twit") isi khotbah Pak Ustad selama khotbah Jumat berlangsung. Seorang kawan bilang jelas tidak boleh karena mengganggu kekhusyukan jalannya ibadah Jumat. Sementara bagi saya ini bukanlah masalah, atau kalau pakai istilah Pak Ustad, "lebih banyak manfaat daripada mudharatnya." Bukankah aktifitas ini juga ikut membantu syiar agama dan sekaligus membantu berkonsentrasi pada isi khutbah? Bukankah itu lebih baik daripada ngantuk apalagi tidur selama khutbah?

Ya mohon maaf kalau tidak berkenan. Ini cuma pendapat pragmatis seseorang yang pemahaman agamanya masih super cetek. Kalau ada yang punya pemahaman lain, mbok dibagi pencerahannya :D

Selamat berakhir pekan, kawan-kawan. Salam dari Tukiyo yang sedang dingin-dinginnya.. Brrr...

10/1/12: Sirik: Parody Siri Versi Bahasa Indonesia

Siri-gui-logo

Bangun tengah malam malah nggak bisa tidur lagi. Akhirnya mainan fungsi siri di ponsel. Jadi ingat dengan podcast banyolannya Mr.Brown yang memparodikan Simi (Siri ala Singapur). Karena masih nggak bisa tidur, ujung-ujungnya malah buka komputer, cari situs text to speech gratisan, ketemu yang ini, terus ikut-ikutan bikin parodi siri ala Indonesia yang gue sebut sirik. Bagaimana cara membuatnya bisa berbahasa Indonesia? Gampang aja. Tulis kata yang diinginkan sesuai dengan cara pengucapan dalam bahasa Inggris. Misalnya untuk kata "Terimakasih" maka tuliskan: "tuh ree ma ka see." Coba deh, seru.. :D Jadi inilah hasilnya, obrolan gue dengan siri. Eh sirik! :p (Musik latar: Porch Blues - Kevin MacLeod ). 

Disclaimer: This podcast is a parody of Apple's siri technology in Indonesian language. It's meant for entertainment purposes only and has no commercial values whatsoever.

(download)

Filed under  //   audio  

10/1/12: Bangsaku yang "Ceretweet"

6635655755_b96dd66f03_b

Eric Fisher, seorang ahli pemetaan media sosial menciptakan peta yang menggambarkan pergerakan dan komunikasi manusia yang terekam twitter di seluruh dunia. Hijau menggambarkan pergerakan fisik manusia dari satu tempat ke tempat lain, ungu menggambarkan "reply" dari seseorang di satu lokasi ke lokasi lainnya dan putih adalah gabungan keduanya. 

Yang menarik dari peta itu, seperti ditulis oleh Pete Cashmore dari situs media sosial mashable adalah traffic dari dan keluar Indonesia yang dijuluki "the most twitter-addicted nation." 21 persen orang Indonesia berkicau di twitter menurut data tahun 2010 yang dikutip oleh Pete. Kelihatan sekali di peta itu betapa terangnya Indonesia, khususnya pulau Jawa. 

Oya, bulan November 2011 lalu si Tuan Eric ini juga pernah membuat pemetaan bahasa yang digunakan di twitter. Hasilnya Bahasa Indonesia ada di urutan ke tiga setelah bahasa Inggris dan Portugis. (Untuk melihat petanya silahkan klik link di bawah artikel ini)

Hmmm.. orang Indonesia ternyata "ceretweet" sekali :p Apa ini ada hubungannya dengan ulah si Tante Kamseupay™ ? :D 

---
* Tautan terkait: 
 
:: Sumber gambar (hak cipta ada pada Eric Fisher) 
:: Rujukan lain dari situs mashable
:: Peta twitter berdasarkan bahasa oleh Eric Fisher

29/12/11: Lihat Ke Bawah di Scoop

Photo

Twit seorang teman beberapa hari lalu mengabarkan bahwa e-book "Lihat Ke Bawah" saya sudah bisa dibeli menggunakan aplikasi Scoop agar bisa dibaca di iPad atau iPhone/iPod. Ah, jadi ingat beberapa waktu lalu memang pernah dihubungi oleh rekan dari Evolitera publishing yang minta izin untuk menjual buku itu di Scoop. Sebagai pengguna setia Scoop (karena jauh dari Indonesia, saya langganan Tempo dan beberapa majalah serta penerbitan lain lewat aplikasi hebat ini) tentu saya langsung mengiyakan. Terimakasih Evolitera, terimakasih Scoop. Silahkan kalau ada yang berminat :) Kalaupun mau versi pdf nya masih ada disini.

NB: Oya, buat 20 orang yang merasa masih belum dikirimi ebook ini dengan tulisan dan tanda-tangan saya seperti yang pernah dijanjikan di posting ini dan juga lewat facebook, mohon email saya di rane.hafied[at]gmail.com, karena banyak yang tidak menyertakan email sehingga saya tidak tahu harus kirim kemana.

14/12/11: Belum Pernah Makan Ramen?

Gambar

Apa yang paling ingin loe makan kalau ke Indonesia?” Pertanyaan itu pernah diajukan beberapa kawan sesama pencinta kuliner. Jawabnya bisa macam-macam: mie ayam, nasi uduk, pecel lele, nasi padang dan lain-lain, tapi dari semua jawaban itu tidak ada yang paling mengejutkan kawan-kawan saya selain ramen! Ya, saya penasaran mau tahu rasa ramen.

 “Eh, kemane aje loe, bang? 3 tahun di Jepang nggak pernah makan ramen? Gue aja waktu ke sono makan ramen mulu,” kata seorang teman. Jawaban saya kepadanya membuat dia terdiam, hening sejenak, lalu disusul ucapan istighfar berkali kali hahaha...

Read the rest of this post »

14/12/11: Hari Ini...

Rewind

Ada saat-saat ketika menjelang menutup hari di pembaringan yang hangat, pikiran ini sejenak me-rewind semua yang baru saja berlalu. Seperti hari ini. Hari yang benar-benar sarat kisah. Ada yang pergi meninggalkan dunia (semoga beliau tenang di sisiNya ya, kawan..), ada yang memperpanjang kehidupannya, ada yang membuka kembali lembaran lama diiringi tawa dan juga tangis, ada yang serius menata hidup di hadapan, ada yang asik saling membenci dan memaki, ada yang masyuk mencinta dan mengasihi, .. dan ada yang ngelindur sendiri di tempat tidur hehehe

Jadi ingat saran seorang teman baik yang entah dimana gerangan dia sekarang. Menurutnya, di penghujung hari, sebelum memarkir tubuh dan pikiran, biasakan mengingat kembali semua peristiwa yang telah kita jalani hari ini, mulai dari bangun tadi pagi hingga menjelang tidur kembali. Kalau bisa ingat semuanya hingga ke hal-hal yang paling rinci. Konon, ini adalah cara ampuh melatih otak agar tidak cepat jadi pelupa dan pikun, juga untuk mensyukuri segala nikmat hidup yang telah diberikan Sang Pencipta, sekaligus juga cara yang efektif untuk mengundang kantuk (ketimbang menghitung domba melompati pagar seperti cara orang bule di barat sana yang tidak jelas apa manfaatnya).

Bagaimana dengan harimu, kawan? 

- Tokyo, di suatu penghujung hari

10/12/11: Gerhana Bulan 10-11 Desember 2011

"Eh, malam ini gerhana bulan kan, yah?" kata istri saya saat kami sekeluarga sedang menghangatkan badan di depan pemanas di kamar sambil mengikuti perkembangan berita tertangkapnya Nunun Nurbaeti lewat internet. Ah! Baru ingat! Masa bodo dengan Nunun, toh dia sudah tertangkap :) Langsung saya sambar Canon 400D kesayangan dan lensa EF 90-300 yang sudah lama tidak dipakai, plus baju dua lapis plus jaket tebal lalu nongkrong di beranda rumah. Suhu 4-5 derajat sudah tidak terasa saking asiknya hehe.. Ini beberapa hasil fotonya yang saya persembahkan untuk kawan-kawan di Indonesia yang kabarnya tidak bisa melihat gerhana karena cuaca yang tidak mendukung. Semoga berkenan :) (Klik foto untuk memperbesar)

Tokyo, 12 Desember 2011

(download)

8/12/11: Membaca Buku: Antara Ilmu dan Rekreasi

"Lagi baca buku apa?" Ada beberapa kawan yang setiap kontak selalu bertanya begitu. Mereka tahu saya juga seorang pemamah buku. Tapi berbeda dengan yang lainnya, saya tidak pernah bisa mendisiplinkan diri atau memasang target untuk memamah sekian buku dalam sekian hari atau sekian minggu. Saya bahkan tidak bisa memahami kenapa sampai ada yang harus memasang target baca buku dalam waktu tertentu. Mungkin mereka punya alasan yang tidak saya ketahui.

Buku adalah sumber ilmu. Begitu slogan-slogan yang banyak saya terima waktu kecil dulu dan jelas itu ada benarnya. Tapi lebih dari sekedar sebagai sumber ilmu, buku bagi saya adalah sebuah kegiatan rekreatif. Saya membaca di perjalanan ke kantor, di sela pekerjaan, di saat makan siang, di perjalanan pulang dan sebelum tidur. Satu buku bisa saya habiskan dalam seminggu atau lebih. 

Read the rest of this post »

5/12/11: Selamat Ulang Tahun ke 8 Blogfam! Ini Hadiahnya..

Logo-blogfam-2011

 

Hari ini komunitas blogger yang dikenal dengan nama Blogfam merayakan ulang tahunnya ke 8. Blogfam bisa jadi merupakan salah satu komunitas blog masa-masa awal dulu yang masih terus ada hingga kini. Apa yang bisa membuat Blogfam terus bertahan hingga kini? Saya berani bilang itu adalah faktor kekeluargaan. Blogfam bukan sekedar komunitas tapi sebuah keluarga besar. Keluarga besar yang saling perduli, saling memberi dan saling memotivasi untuk maju.  

Saya sendiri bergabung dengan Blogfam sekitar tahun 2007. Baru pertama bergabung saja ketika itu saya sudah disambut ramah dan ramai. Tidak ada istilah "pelonco" atau senior junior atau apapun istilahnya. Semua disambut hangat dan langsung bisa berinteraksi dengan siapapun di sana, bak sebuah anggota keluarga. Bahkan ketika para anggotanya sudah berloncatan keluar kesana kemari, mereka tetap merasa sebagai bagian dari keluarga itu dan disambut ramah. Saya adalah salah satu "anak hilang" itu yang sempat menghilang dari peredaran tapi kembali. Bahkan saya dan bersama Indah Julianti kemudian dipercaya untuk mengurusi manajemen Blogfam (oh iyaaa, istilahnya manajemen) ini, dengan tekad suatu saat ketika komunitas ini sudah jauh lebih marak kembali seperti dulu, kami harus gelar "pemilu Blogfam" untuk menyerahkan tampuk kepada adik-adik yang lebih muda (bukan berarti kami sudah tua lho haha). Nah, tugas terpenting kami berdua adalah untuk terus "menyalakan kompor" bernama Blogfam ini.

Jadi selamat ulang tahun Blogfam, selamat ulang tahun buat para founder dan para anggotanya. Yuk kita nyalain lagi kompornya gede-gede.. :)

Oya, ini hadiah ulang tahunnya, sekaligus sebagai bagian dari upaya untuk memperbesar kembali api kompor di ruang keluarga Blogfam. Sebuah edisi majalah terbitan blogfam bernama bz! yang pernah hadir berkala setiap bulan selama hampir 3 tahun yang dikemas ulang dalam bentuk e-book dan diberi nama bz! edisi nostalgila. Selamat bernostalgia. Semoga ada yang terkompori.. :p

- Tokyo, 6 Desember 2011
JaF aka Rane